Tapanuli Utara — Minggu 28 September 2025
Final Pangaribuan Cup 2025 yang mempertemukan Pansur Natolu FC dan Batu Manumpak FC bukan sekadar pesta bola kampung. Di balik riuh sorakan penonton dan semangat para pemain, tersimpan pesan politik, sosial, sekaligus pembangunan yang dirangkai apik oleh Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si, M.Si.
Kehadiran Bupati bersama Ketua TP-PKK Taput, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat Br. Purba, Kapolres AKBP Ernis Sitinjak, Dandim 0210/TU Letkol Kav Ronald Tampubolon, dan sejumlah pejabat lainnya memberi sinyal kuat: pemerintah hadir bukan hanya di ruang-ruang formal, melainkan juga di lapangan tempat rakyat berkumpul. Ini panggung kerakyatan, di mana olahraga dijadikan sarana membangun karakter sekaligus menguatkan legitimasi sosial pemimpin daerah.
Olahraga Sebagai Panggung Politik Positif
Sepak bola kerap disebut sebagai bahasa universal. Dari kota besar hingga pelosok, ia mampu menyatukan orang dari berbagai latar belakang. Dalam konteks Pangaribuan Cup, Bupati Taput memanfaatkan momentum ini dengan cerdas. Dengan menyumbangkan hadiah pribadi Rp2 juta untuk juara 1 dan Rp1 juta untuk juara 2, JTP tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi juga menampilkan wajah pemimpin yang merakyat. Gestur ini sederhana, namun bermakna besar bagi masyarakat yang menghargai perhatian nyata dibanding janji kosong.
Lebih dari itu, Bupati menegaskan bahwa turnamen ini akan menjadi jalur seleksi pemain berbakat untuk memperkuat PERSTU, klub kebanggaan Taput. Di sini terlihat arah strategis: dari kompetisi kampung lahir pemain yang bisa menembus level daerah, bahkan nasional. Artinya, sepak bola dijadikan instrumen pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar hiburan sesaat.
Politik Aspirasi di Pinggir Lapangan
Menariknya, even olahraga ini juga menjadi ruang komunikasi politik. Anggota DPRD Taput, Selamat Pakpahan dari Partai Perindo, ikut memanfaatkan kesempatan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Ia mengusulkan perbaikan lahan pertanian, penanganan banjir di Pekan Pangaribuan, hingga pembangunan jalan alternatif. Artinya, turnamen bola tidak hanya mempersatukan warga, tetapi juga membuka kanal dialog antara rakyat, DPRD, dan eksekutif. Politik aspirasi berlangsung di lapangan hijau, jauh dari gedung dewan.
Dimensi Sosial dan Ekonomi Lokal
Pangaribuan Cup 2025 juga punya efek domino bagi kehidupan sosial dan ekonomi. Pedagang kecil ikut kecipratan rezeki, jalanan desa ramai, dan interaksi sosial antarwarga makin erat. Penyelenggaraan turnamen ini membuktikan bahwa olahraga bisa menggerakkan ekonomi mikro, sekaligus memperkuat solidaritas komunitas.
Penghargaan fair play yang diberikan kepada Lobu Gala FC dan Huta Raja FC menambah makna: sepak bola di Taput bukan soal menang-kalah, tetapi juga menjaga persaudaraan. Nilai-nilai sosial seperti ini penting diangkat, karena dari sinilah karakter generasi muda ditempa.
Membangun Generasi Muda Holistik
Pesan Bupati yang menekankan pentingnya prestasi non-akademis menjadi catatan penting. “Prestasi siswa bukan hanya soal pelajaran. Atletik, seni, dan kegiatan positif lainnya juga harus kita dukung bersama,” ujarnya. Ini menunjukkan paradigma pembangunan sumber daya manusia Taput yang holistik: otak, fisik, dan mental harus berkembang seimbang.
Dengan pola ini, generasi muda Taput tidak hanya cerdas di sekolah, tetapi juga tangguh di lapangan, kreatif di seni, dan disiplin dalam berkegiatan. Turnamen sepak bola hanyalah salah satu pintu masuk dari pembinaan yang lebih luas.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Kehadiran Kapolres, Dandim, DPRD, dan tokoh masyarakat dalam acara ini memperlihatkan wajah Taput yang solid. Pemerintah sipil, aparat keamanan, hingga masyarakat bahu-membahu mendukung kegiatan positif. Ini bukan sekadar olahraga, melainkan simbol sinergi untuk membangun daerah bersama.
Pada akhirnya, Pangaribuan Cup 2025 lebih dari sekadar turnamen sepak bola. Ia adalah panggung politik kerakyatan, ruang komunikasi aspirasi, motor penggerak ekonomi mikro, sekaligus wadah pembinaan generasi muda.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan antusiasme masyarakat, turnamen seperti ini bisa berkembang menjadi ekosistem olahraga yang kokoh di Tapanuli Utara. Dari lapangan desa ke stadion besar, dari semangat lokal ke prestasi nasional — Pangaribuan Cup memberi harapan bahwa Taput sedang menyiapkan masa depan olahraga yang cerah sekaligus generasi muda yang tangguh.






