Beritajelajahindonesia.news||Tarutung – Kegiatan Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai (SERUNAI) yang digelar di Tarutung pada 12–14 Desember 2025 tidak semata diposisikan sebagai rangkaian perayaan Natal. Di balik agenda lomba seni dan kreativitas lintas usia, SERUNAI dirancang sebagai ruang partisipasi publik yang mengintegrasikan nilai budaya, keagamaan, dan aksi kemanusiaan, khususnya bagi korban bencana alam di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).
Penyelenggaraan SERUNAI berlangsung di tengah situasi pemulihan pascabencana yang masih dirasakan sebagian masyarakat Taput. Karena itu, panitia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak berdiri terpisah dari konteks sosial yang ada, melainkan menjadi medium konsolidasi solidaritas masyarakat untuk membantu warga terdampak. Dalam Kegiatan SERUNAI tersebut ada beberapa item yang dinilai dapat menumbuhkan semangat Anak dan mengembalikan Trauma karena Bencana antara lain, Lomba Kreasi Nuansa Natal Tingkat Gereja, Lomba Kreasi Nuansa Natal Tingkat SMP dan Lomba Menggambar CBP Rupiah tingkat SD Kelompok Usia 4 – 6 Tahun.

Selama tiga hari pelaksanaan, SERUNAI menggabungkan kegiatan seni yang melibatkan gereja, pelajar SMP, dan siswa SD dengan program terstruktur. Panitia mencatat terdapat tiga item sarana yang dilaksanakan pada Acara tersebut dan diharapkan mendapat tempat dihati masyarakat terlebih kepada Anak-anak.
Beberapa acara yang dilaksanakan dinilai mampu menjadi trauma hiling meliputi kebutuhan dasar hingga dukungan pemulihan sosial, antara lain bantuan pangan pokok, perlengkapan sandang, kebutuhan anak dan pelajar, paket kebersihan, dukungan logistik komunitas, bantuan perlengkapan ibadah, serta dukungan sosial berbasis komunitas. Seluruh rangkaian dihimpun melalui mekanisme partisipatif dan disalurkan secara terarah kepada kelompok masyarakat terdampak secara langsung maupun tidak langsung.
Panitia SERUNAI menjelaskan bahwa pemisahan fungsi kegiatan menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan acara. Agenda lomba dan pentas seni difungsikan sebagai sarana edukasi, ekspresi budaya, dan penguatan nilai kebersamaan, sementara ‘bantuan kemanusiaan’ disalurkan melalui jalur khusus yang berorientasi pada kebutuhan korban bencana yang sudah dijalankan Pemkab Taput sebelumnya.
“Perayaan Natal tidak bertentangan dengan empati sosial. Justru nilai Natal mengajarkan kepedulian dan berbagi. SERUNAI kami rancang agar kegembiraan publik sejalan dengan aksi nyata bagi sesama,” ujar salah satu panitia kegiatan.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara dimensi sosial-budaya dan tanggung jawab kemanusiaan. Dalam perspektif sosial, ruang-ruang kebudayaan seperti lomba tari dan menggambar tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pemulihan psikososial, terutama bagi anak-anak dan remaja yang terdampak secara tidak langsung oleh bencana.
Selain itu, keterlibatan gereja dan satuan pendidikan dalam SERUNAI memperkuat pesan bahwa solidaritas sosial tidak bersifat elitis atau seremonial, melainkan tumbuh dari partisipasi komunitas akar rumput. Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana institusi sosial dapat berkolaborasi dalam merespons situasi darurat tanpa menghilangkan identitas budaya dan nilai keagamaan.
Dari sisi akuntabilitas, panitia memastikan bahwa seluruh Rangkaian acara dan pemberian bantuan dicatat dan disalurkan secara transparan melalui koordinasi dengan unsur panitia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran serta menghindari tumpang tindih dengan program penanganan bencana lainnya.
“Acara ini bukan hanya soal barang, tapi juga perhatian. Kami merasa tidak sendiri,” ungkap salah seorang warga terdampak.
Dengan pendekatan tersebut, SERUNAI tidak hanya menjadi agenda tahunan perayaan Natal, tetapi juga model kegiatan sosial berbasis budaya yang adaptif terhadap situasi krisis. Integrasi antara ekspresi seni dan aksi kemanusiaan menunjukkan bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kohesi sosial sekaligus menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Ke depan, panitia berharap SERUNAI dapat terus dikembangkan sebagai platform kolaborasi sosial yang responsif, inklusif, dan berorientasi pada kemanfaatan publik. Di tengah tantangan kebencanaan yang kerap terjadi di wilayah Tapanuli, model kegiatan semacam ini dinilai relevan untuk memperkuat solidaritas dan ketahanan sosial masyarakat.(RGG/Wolper T)







